Kamis, 08 Mei 2014

SAAT MENUNGGU PENENTUAN

    Saat yang ditunggu mendekati penentuan. Banyak di antara orang berharap sambil cemas dan galau perihal kabar kelulusan. Padahal jauh hari sebelum hari pengumuman kelulusan itu tiba, ada diantaranya malah merasa biasa dan tenang-tenang saja. Tak terpikirkan sebelumnya kalau ternyata beberapa hari menjelang penentuan itu justru ketegangan datang menghampiri dan semakin memuncak seiring mendekatnya hari H. Sebenarnya kalau mau perhatikan lebih seksama bukanlah pengumuman untuk menentukan siswa yang lulus dan tidak lulus, akan tetapi pengumuman siswa yang lulus dan mengulang kembali (remedial) UN.
    Sambil merenungi kembali segala hal dan peristiwa yang terjadi sebelum UN. Ternyata, ada di antaranya mungkin menyadari bahwa banyak waktu yang terbuang percuma, sebagai contoh kurangnya tindakan mempersiapkan UN secara matang; saat pemantapan UN kurang memerhatikan guru, walaupun sebenarnya bukan gratis bahkan ada yang datang telat dan tidur di kelas. Justru baru mulai berlatih soal-soal beberapa minggu menjelang ujian dan semakin intensif saat UN tinggal satu minggu lagi. Ingatkah akan buku-buku pemantapan yang banyak kosong tak terisi karena malas mencatat saat pemantapan UN?. Hanya di awal-awal saja semangat membara mengikuti alur proses pemantapan. Selanjutnya lebih banyak bermalas walaupun kelihatannya asyik masuk kelas, tapi entah apa yang mereka asyikkan?. Oh…barangkali, tingkat kejenuhan semakin meningkat seiring dengan mendekatnya UN. Suasana bertambah jenuh dan konsentrasi terbagi dengan kenyataan bahwa bukan hanya menghadapai UN, tetapi………akh!
    Beberapa hari menjelang UN, bukan hanya sibuk belajar saja, tetapi juga sibuk mempersiapkan sekaligus mencari bocoran kunci jawaban UN. Bisa di ingat di antara anak terbiasa untuk berbasa-basi tentang kunci jawaban UN? Sebenarnya boleh prihatin dengan kelakuan ini, tapi sulit juga   memahami kalau mereka sebenarnya melakukan itu karena dihinggapi rasa takut dan cemas akan kegagalan mengerjakan soal?. Manusia itu memiliki rasa takut karena tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.  Padahal harus diketahui bahwa orang-orang pemberani adalah mereka yang terdorong untuk  menunjukkan pada dunia dan membuktikan kehebatan dirinya.  Selain itu tidak mungkin untuk mencapai keberhasilan yang besar tanpa menjumpai perlawanan, kesukaran, dan kemunduran. Akan tetapi adalah mungkin untuk mengalami hidup selebihnya tanpa kekalahan. Sebaliknya jika seseorang banyak berada dalam kemudahan dan kesenangan, maka jiwa akan menjadi rusak. Seseorang yang tidak mengenal kesulitan, dia tidak akan mengenal lezatnya belas kasih dan manisnya kasih sayang. Yang demikian hatinya tidak akan tersentuh oleh  apapun, bahakan biasanya sulit untuk diajak beradaptasi. Padahal sukses mungkin menghampiri kita ketika kita tidak mengharapkannya dan kebanyakan orang tidak menyadarinya.
    Makanya setiap sekolah biasanya mengadakan doa bersama menjelang UN. Sayangnya acara doa dan pemberian motivasi bagi siswa inipun sebagian kurang di ikuti dengan serius. Terbukti tetap sajaada yang  ketawa bahkan saat muhasabah berlangsung. Alkisah acara terakhir ditutup dengan salam dan saling bermaaf-maafkan sambil meminta doa kelancaran untuk ujian.
    Kini, UN telah berlalu dan tiba juga saatnya menunggu pengumuman. Tentunya menjelang detik-detik hari penentuan ini ketegangan semakin membuncah. Hal yang wajar sebagai sifat alami dari manusia yang mencemaskan dan mengkhawatirkan masa depan yang tak pasti. Tapi, setahap demi setahap, tirai ketidakpastian masa depan itu akan tersibak seiring dengan berjalannya waktu. Apapun yang terjadi nanti, yang harus dipersiapkan adalah  mental. Kalau lulus, alhamdulillah harus disyukuri. Kalau tidak, bukan berarti tidak lulus. Hanya harus diremedial, artinya masih ada kesempatan satu kali lagi. Jangan sampai jatuh pada depresi dan frustrasi, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali. Hmm, bicara itu memang paling gampang, tapi praktiknya belum tentu bisa setegar itu. 
    Dalam perjalanannya, kekuatan mental sering dihadapkan pada rintangan dan kesulitan yang  berasal dari lingkungan maupun dari dalam diri sendiri, dan terjadi sewaktu latihan uji mental  maupun acara resmi. Idealnya seorang yang bermental baja harus merespon kesulitan seperti seorang Climber dalam mencapai puncak prestasinya. Jika direnungkan, kegagalan, derita dan kekecewaan yang pernah dialami oleh orang yang bermental baja tidak berbeda dengan mereka yang menyerah dan membenamkan diri dalam penyesalan maupun kegagalan mengendalikan mental itu sendiri. Perbedaannya, kelompok yang satu selalu cepat menyerah karena kegagalan, sedangkan kelompok yang lain belajar dan memetik hikmah dari kegagalan. Justeru kebanyakan orang gagal adalah orang yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka ke titik sukses saat mereka memutuskan untuk menyerah. Selain itu pemicu orang gagal, yakni mereka yang bertindak tanpa berpikir, dan mereka yang berpikir tanpa bertindak. Sesungguhnya kegagalan dan kekalahan adalah juga pelajaran untuk berhasil.
    Tentu akan lebih baik bila memilih sifat tabah dengan iman, karena sifat tabah mampu menghadapi tekanan. Juga menjadikan segala bentuk tekanan bukan sebagai kendala, tetapi dimaknai sebagai tantangan yang akan membentuk kepribadian dirinya menjadi lebih cemerlang. Anehnya dalam tekanan justru akan menimbulkan kreativitas, dinamika, dan nilai tambah bagi seseorang. Sikap tabah melahirkan keyakinan, kekuatan, dan kesungguhan untuk melahirkan hasil yang bernilai tinggi. Mereka tidak mudah menyerah, walaupun tantangan atau tekanan menghadang setiap langkah. Mereka sangat yakin bahwa nilai setiap usaha akan terasa semakin bermakna bila mereka mampu mengatasi setiap tantangan yang dihadapinya. Mereka sadar bahwa untuk memperoleh  mutiara dibutuhkan perjalanan yang panjang, menyelam jauh ke dasar samudera. Tidak ada hasil yang gratis kecuali harus diperjuangkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar